Ultah SBSI Ke 28 : SBSI Kuat Rakyat Sejahtera, Buruh Bersatu Pasti Menang

oleh -

Medan | Pada ulang tahun Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia ((K) SBSI) yang ke 28 Minggu (26/4) wartawan beritanusa.com berkesempatan mewawancari Nicholas S, SH MH, Binter Gultom, F.Maurits Siahaan,SH tokoh – tokoh (K) SBSI Sumatera Utara yang di kenal berkat keuletannya membela kepentingan buruh.

Menurut Nichlas, SBSI dirancang oleh lima pemrakarsa yaitu: Muchtar pakpahan, Sukowaluyo Mintorahardjo, Sabam Sirait, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Rachmawati Sukarnoputi dengan dasar organisasinya adalah Nasionalis, Marhaenis dan Sukarnois dan visinya mewujudkan cita-cita Sukarno yaitu memerdekakan Indonesia MENDIRIKAN NEGARA WELFARESTATE. Itulah dasar ketika SBSI dideklarasikan pada 25 April 1992.

“Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) dibentuk ketika pemerintahan Orde Baru masih berkuasa di Indonesia. Saat itu pemerintah menetapkan bahwa di Indonesia hanya ada satu organisasi para buruh,  yang seharusnya mewakili dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan para buruh dalam kaitan dengan pekerjaannya, pada kenyataannya lebih sering memihak kepada pemilik perusahaan dan pemerintah, yang berkepentingan untuk memelihara kondisi kerja yang menguntungkan para pemilik modal agar Indonesia tetap menarik bagi mereka,” ungkap Nicholas.

Dijelaskannya, hal ini menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan para buruh. Karena itu pada 25 April 1992, dalam sebuah pertemuan buruh nasional di Cipayung, Jawa Barat, dibentuklah Serikat Buruh Sejahtera Indonesia. Tokoh-tokoh yang ikut memprakarasi pembentukan organisasi ini antara lain adalah Dr. Muchtar Pakpahan, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rachmawati Soekarnoputri, Sabam Sirait, dan dr. Sukowaluyo Mintohardjo. Muchtar Pakpahan kemudian terpilih sebagai ketua umum SBSI yang pertama.

Binter Gultom dan F.Maurits Siahaan,SH menceritakan bahwa kebangkitan gerakan buruh ini lalu direspons negara dengan represi. Gerakan buruh yang baru bangkit ini tampaknya memang belum cukup kuat untuk menantang negara. Pasalnya, tradisi keterorganisiran yang ada di buruh sempat putus akibat penghancuran gerakan rakyat tahun 1966. Saat krisis ekonomi menghantam Indonesia di tahun 1997, kepeloporan gerakan sosial pun diambil oleh satu sektor yang tradisi keterorganisirannya relatif tidak putus dan dekat dengan dunia gagasan yang bisa menumbuhkan sikap kritis, yaitu mahasiswa.

“Pasca-jatuhnya Soeharto, dunia perburuhan mengalami berbagai perubahan. Di antaranya adalah adanya kebebasan berorganisasi bagi buruh. Kalau dulu begitu sulit untuk mendirikan serikat pekerja di luar FSPSI, karena berbagai macam aturan yang menghambat, maka sekarang ini, berdasarkan UU No. 21 Tahun 2000 Tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh, serikat buruh bisa dibentuk hanya dengan sekurang-kurangnya 10 orang saja. Bermunculanlah berbagai macam serikat buruh pada masa ini,” cerita Binter Gultom, F.Maurits Siahaan,SH yang saat ini duduk di MPW KSBSI Sumut.

Menurut mereka bertiga, perkembangan gerakan buruh di masa ini bukan tanpa hambatan yang serius. Neoliberalisme telah mencengkeram Indonesia dan praktek kerja kontrak serta outsourcing yang membuat hubungan kerja menjadi fleksibel, telah mempersulit pengorganisiran buruh. Mobilitas kapital yang meningkat dan finansialisasi yang mengakibatkan deindustrialisasi, juga telah mempersulit pengorganisiran buruh. (Dedi)