Pemakaian Masker Scuba Dilarang, Penjual Eceran Meradang

oleh -

Binjai | Adanya himbauan pemerintah kepada masyarakat untuk tidak memakai masker scuba dan Buff membuat pedagang eceran yang biasa menjajakan masker jenis scuba meradang pasalnya dengan adanya himbauan pemerintah tersebut membuat barang dagangan mereka tidak laku lagi.

“Kalau biasanya masker jenis scuba bisa laku sampai 10 pcs tapi sejak adanya himbauan pemerintah hari ini Cuma laku 2 pcs, mungkin pembeli tidak tahu ada himbauan pemerintah makanya dia membeli,” ungkap Satiman (45) salah seorang pedagang masker di Jalan Gatot Subroto Binjai Kamis (17/9).

Masih menurut Satiman berdagang masker sudah di gulutinya sejak dirinya di berhentikan dari pekerjaannya akibat pasien Covid-19 mulai banyak di Indonesia sehingga tempatnya biasa bekerja tutup.

“Berjualan masker saat ini menjadi sumber penghasilan satu satunya untuk memenuhi kebutuahan keluarganya sehari hari setelah di PHK, kalau sampai masyarakat tidak lagi mau membeli masker jenis scuba saya bakalan rugi karena stok saya masih banyak karena baru belanja kemarin,” keluh Satiman.

Sementara itu himbauan larangan untuk tidak memakai masker jenis scuba berawal saat Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penangan Covid-19 Wiku Adismito menanggapi larangan penggunaan masker scuba dan buff di dalam commuterline Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menanggapi larangan penggunaan masker scuba dan buff di dalam commuterline. Ia mengatakan, masker scuba dan buff kurang efektif menangkal virus corona.

” Masker scuba atau buff adalah masker dengan satu lapisan saja dan terlalu tipis sehingga kemungkinan untuk tembus lebih besar,” ujar Wiku.

Wiku menyebutkan, masker scuba biasanya mudah ditarik ke leher sehingga penggunaannya menjadi tak efektif sebagai pencegahan. Menurut dia, masker menjadi alat penting dalam mencegah penularan virus corona sehingga masyarakat perlu memakai masker yang berkualitas seperti masker bedah atau kain katun tiga lapis. Berdasarkan penelitian Universitas Oxford, kain katun mempunyai tingkat ketahanan dari penularan virus corona sebesar 70 persen.

Meski demikian, meningkatkan ketahanan proteksi dianjurkan memasukkan tisu yang dilipat menjadi tiga bagian di dalam masker kain, ujarnya. (Raihan)