Panwaslih Bener Meriah Adakan MoU dan MoA Dengan Perguruan Tinggi

oleh -
Keterangan Foto : Panwaslih Kabupaten Bener Meriah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman dan kerja sama (MoU dan MoA) dengan Universitas

Redelong | Panwaslih Kabupaten Bener Meriah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman dan kerja sama (MoU dan MoA) dengan Universitas Gajah Putih, STIHMAT, dan STIT Bustanul Arifi, Senin (19/1/2021 ) di Aula Setdakab Bener Meriah.

Hal itu menindaklanjuti perintah Panwaslih Aceh hasil rapat koordinasi dengan Panwaslih kabupaten/kota se-Aceh pada tahun 2020 lalu.

“Seyogyanya, kegiatan ini dilaksanakan pada Bulan Desember 2020 lalu namun mengingat penyebaran pendemi Covid-19 belum memungkinkan untuk menggelar acara tersebut sehingga di hari ini baru bisa dilaksanakan,” kata Akmal Kepala Sekretariat Panwaslih Bener Meriah dalam laporannya.

Sementara itu, Ketua Panwaslih Bener Meriah, Yusrin mengatakan, pihaknya mengucapkan terimaksih kepada Rektor UGP, Ketua STIHMAT dan Ketuah STIT Bustanul Arifin yang telah bersedia bekerjasama dengan Panwaslih Bener Meriah.

Dikatakan Yusrin, peran serta mahasiswa mengawasi pelaksanakan pesta demoktarsi adalah menjadi harapan sebagai pengawas, sebab tidak mungkin Panwas itu dapat bekerja tanpa adanya bantuan dan partisipasi masyarakat dalam mengawasi pesta demokrasi.

“Semoga dengan adanya kerjsama ini, kedepan dapat terwujud pemilu yang berkualitas dan bermartabat,” terangnya.

Ketua Koordinator bidang Pengawasan Panwaslih Provinsi Aceh, Marini menyebutkan, Bawaslu merupakan satu-satunya lembaga pengawas pemilu yang mandiri yang ada di dunia. Sedangkan di negara lain, lembaga pengawasnya merupakan bagian dari lembaga yang melaksanakan proses Pemilu.

Selain itu, Indonesia (Bawaslu) juga terpilih sebagai wakil presiden Global Electoral Justice Network (GEJN) bersama dengan 3 negara lainnya, yaitu Spayol, Kolumbia dan Afrika Selatan dengan Republik Dominika selaku Presidennya. GEJN sendiri merupakan organisasi internasional yang mewadahi lembaga peradilan pemilu di berbagai negara. Koalisi ini beranggotakan 187 negara.

Pun demikian, pihaknya menyadari tanpa partisipasi masyarakat Panwaslih tidak dapat berbuat untuk mengawasi pesta demokrasi sebab, untuk tingkat Pusat hanya ada 5 Komisioner, tingkat Provinsi 5 Kominioner, dan Kabupaten ada yang 5 ada yang 3 komisioner.

“Kita berharap, dengan adanya kerjasama dengan Universitas dengan melibatkan mahasiswa pengawsan itu dapat lebih efektif,” pintanya.

Rektor Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon, Elliyin S Hut MP mengapresiasi Panwaslih Bener Meriah yang telah menggait Mahasiswa dalam mengawasi demokrasi. Ini juga menjadi suatu kesempatan bagi mahasiswa bisa terjun langsung mengawasi pileg maupun Pilkada.

Sedangkan Ketua STIHMAT, Amir Syam S Pdi menegaskan, selama ini terjadi pasca Pilkada maka akan lebih didominan Pemerintah bayangan, hanya 25 persen saja kepala daerah itu memimpin, 65 persennya itu dikendalikan pemerintah bayangan yakni tim sukses.

“Yang ada saling sandra kepntingan antara Eksekutif dan Legislatif, hal itu lantaran tingginya kos untuk meraih kedudukan,” katanya.

“Begitu juga Birokrasi, sulit untuk menempatkan kepala dinas yang sesuai kemampuan, karena sudah saling tersandra kepentingan. Untuk itu kita menilai langkah yang diambil Panwaslih untuk menggait Universitas mengawal dan mengawasi demokrasi adalah salah satu upaya untuk mewujudkan pemilu yang beribawa,” tegasnya.

Sementara Ketua STIT Bustanul Arifi, Yusrol Hana sangat menilai positif langkah panwasli menjalin kerjasama dan melibatkan mahasiswa terjun langsung mengawasi demokrasi.

Sekda Bener Meriah, Drs Haili Yoga dalam arahanya mengatakan, pihaknya sangat mendukung langkah Panwaslih mengait mahasiwa dalam mengawasi pesta demokrasi.

Dikatakan Haili Yoga, masyarakat itu permintaanya hanya sederhana yaitu bagaiman proses pemilu itu berjalan dengan baik, aman, nyaman, jujur dan adail. Memang pada kenyataanya pelaksanan itu sangat sulit sebab menyatukan keluarga saja sangat sukar apalagi menyatukan masyarakat dengan bermacam latar belakang, suku.

“Mari kita melihat dari sisi kebutuhan bukan keinginan agar semua itu dapat berjalan, sebab kalau kita mengedepankan keinginan tentu antara yang satu dengan yang lain juga berbeda keinginan,” katanya (Rahman)