Akses Jalan Ditembok, Santri Rumah Tahfiz Quran Gunakan Tangga

oleh -
Akses Jalan Ditembok, Santri Rumah Tahfiz Quran Gunakan Tangga
Keterangan Foto : Beberapa Santri rumah tahfiz quran terpaksa menggunakan tangga untuk memanjat tembok bila mau beribadah di mesjid yang berada di jalan nibung 1.

Binjai | Akibat akses jalan nibung 1 dan jalan keluarga yang berada di kelurahan jati Makmur kecamatan Binjai Utara kota Binjai dipasang pagar tembok setinggi 1,5 meter oleh salah seorang ahli waris,  warga dan sejumlah santri rumah tahfiz quran yang berada dikawasan tersebut terpaksa menaiki tangga kayu yang dibuat oleh warga saat akan melakukan ibadah di mesjid yang berada di jalan nibung 1.

Pasalnya untuk menuju mesjid,  hanya bisa dilintasi melalui jalan tersebut,  sementara untuk akses jalan lainnya harus menempuh rute yang lebih jauh lagi. 

Penembokan pagar beton setinggi 1,5 meter ini sebelumnya disediakan akses pintu oleh pemilik lahan dan sudah dilakukan pengaspalan oleh pemerintah kota binjai selebar 2 meter,  namun diujung jalan keluarga yang tembus ke jalan nibung 1, sekarang ini sudah berdiri tembok beton yang menjadi penghalang aktifitas warga. 

Menurut salah seorang warga,  dulunya jalan tersebut terbuka dan bisa dilintas kendaraan,  namun sejak ditembok oleh salah seorang ahli waris,  mereka terpaksa memanjat pagar dengan menggunakan tangga,  apalagi sejumlah santri rumah tahpiz quran yang juga terpaksa memanjat pagar tembok dengan tangga saat akan beribadah di mesjid terdekat. 

” Setau saya dari dulu itu merupakan jalan umum karena terbuka dan bisa kami lintasi,  tapi sekarang sudah tidak bisa lagi karna dipagar beton oleh ahli waris pemilik lahan,  kami juga ngak tau apakah jalan itu merupakan fasilitas umum atau jalan pribadi, ” ujar Fitri. 

Sementara itu Lurah kelurahan jati Makmur,  kecamatan Binjai Utara,  Hotlan Panjaitan saat ditemui dikantornya, Senin ( 13/9/2021) menjelaskan bahwa pihaknya sudah pernah melakukan mediasi antara warga dengan pemilik lahan,  dan sempat di simpulkan akan diberikan pintu ditembok tersebut,  namun keesokan hari usai dilakukan mediasi,  ahli waris pemilik lahan kembali datang dan membatalkan kesepakatan tersebut,  dengan alasan salah seorang ahli waris yang berada di Jakarta tidak bersedia membuka pagar tembok. 

Pihak kelurahan juga masih mengumpulkan alas hak tanah tersebut guna mengetahui apakah jalanan yang sudah dilakukan pengaspalan merupakan fasilitas umum atau milik pribadi.  

“Kami masih mengumpulkan alas hak tanah dari para ahli waris yang berjumlah 12 orang,  guna diketahui status tanah tersebut,  karena mediasi awal yang dilakukan tidak membuahkan hasil,  jika nanti alas hak sudah dikumpulkan dan status tanah sudah diketahui,  maka akan langsung kita proses sesuai dengan statusnya, ” ucap Lurah Jati Makmur didampingi kepala lingkungan setempat. (anora)