10
Jul 2018
Indonesia jadi Surganya Pasar Drone Komersil
Ditulis oleh MEDCOM/ND
PDF Print E-mail

BERITANUSA – Pasar drone komersil di Indonesia memiliki potensi besar. Alasannya karena beberapa industri yang menggunakan drone -- seperti agrikultur, pertambangan, minyak dan gas -- merupakan industri besar yang mendukung perekonomian Indonesia.

Hal ini diungkap oleh Eli Moselle, CEO Halo Robotics, distributor drone DJI di Indonesia.

"Indonesia adalah salah satu negara terbaik bagi industri drone komersil untuk tumbuh dan berkembang," kata pria yang akrab dengan panggilan Eli ini saat ditemui di Wisma Aldiron, Jumat 6 Juli 2018.

Memang, saat ini, bisnis utama DJI masih ada pada drone konsumen dan profesional. Namun, pasar drone komersil juga menunjukkan pertumbuhan besar.

"Jumlah penjualan drone konsumen memang sangat bagus. Namun, tingkat pertumbuhan penjualan mulai menurun," katanya. "Sementara untuk drone komersil, kami melihat penggunaan drone komersil akan meningkat secara eksponensial. Banyak perusahaan yang kini menggunakan drone untuk meningkatkan keamanan, mengurangi biaya dan juga meningkatkan produktivitas."

"Selama penggunaan drone bisa meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional, perusahaan akan terus membeli drone," kata Eli.

Halo Robotics sendiri berusaha untuk tidak hanya menjual drone, tapi solusi lengkap yang mencakup hardware, seperti drone, sensor dan kamera, software dan juga pelatihan.

"Hardware, software dan pelatihan adalah tiga hal yang menjadi fokus kami," kata Eli.

Sementara itu, DJI berusaha untuk mengembangkan ekosistem dengan drone buatannya sebagai pusatnya. DJI bekerja sama dengan perusahaan pihak ketiga untuk mengembangkan aksesori -- seperti kamera dan sensor -- atau software untuk drone buatan mereka.

"Setelah DJI sukses mengembangkan ekosistem, maka momentum mereka akan sulit untuk dihentikan," katanya.

Di lapangan Wisma Aldiron, Halo Robotics mendemonstrasikan beberapa drone milik DJI. Dua diantaranya adalah drone yang ditujukan untuk perusahaan, yaitu Matrice 200 dan Agras MG-1. Dilengkapi dengan tangki, drone Agras dapat digunakan untuk menyiram tanaman di kawasan perkebunan.

Sementara Matrice 200 -- yang drone-nya saja dihargai Rp130-150 juta -- dapat digunakan untuk berbagai fungsi, tergantung pada kamera yang terpasang pada drone tersebut. Salah satu fungsinya adalah untuk pemetaan perkebunan.

Managing Director Halo Robotics, Johannes Soekidi menjelaskan, di atas kertas, baterai Matrice 200 bisa bertahan untuk penerbangan selama 38 menit. Namun, angka ini bisa berkurang, tergantung pada kamera yang dibawa.

"Jika membawa satu kamera, Matrice bisa terbang selama 35 menit. Sementara jika membawa dua kamera, ia bisa terbang selama sekitar 28-29 menit," kata Johannes.

Selain pemetaan, Matrice 200 juga bisa digunakan oleh PLN untuk memeriksa SUTET. Hal ini menurut Johannes, akan membuat proses pemeriksaan SUTET menjadi lebih aman.

Jika dipasang dengan kamera thermal, Matrice juga bisa digunakan untuk memeriksa keamanan suatu kawasan atau untuk mencari orang yang hilang.

Biasanya, dia bercerita, Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan) hanya mendengar kabar orang hilang dari warga sekitar. Dengan bantuan drone lengkap dengan kamera thermal, Basarnas akan dapat mencari orang hilang lebih mudah.

Indonesia jadi Surganya Pasar Drone Komersil
 


Polling

Yakinkah Anda Indonesia Akan Lebih Baik Dibawah Kepemimpinan Jokowi-JK?
  Results

Follow us