BERITANUSA – Usia senja ternyata tidak membuat orang serta merta mendekatkan diri kepada Tuhan. Seperti ibu rumah tangga SR (57) warga Cengkareng, Jakarta Barat. Dia menjual minuman keras (miras) oplosan hasil racikannya sendiri.

Akibatnya fatal, enam orang tewas akibat menenggak minuman haram yang dibuatnya. Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan mendapatkan laporan pada Senin (25/6/2018) dini hari bahwa seorang warga, MR, meninggal di RSUD Cengkareng akibat miras oplosan. Setelah diselidiki ternyata MR merupakan korban tewas keenam akibat minuman yang sama yang diproduksi sejak 21 Juni lalu itu.

“Sudah ada yang meninggal tiga orang tapi tidak dilaporkan dan langsung dimakamkan. Kemudian baru diketahui tadi malam atau tadi dini hari tadi 02:00 bahwa ada satu korban yang meninggal dunia di RSUD Cengkareng. Dan ini ternyata adalah korban keenam. Sebelumnya tak ada yang dilaporkan,” ujarnya di Mapolres Metro Jakarta Barat, Senin (25/6/2018).

Polisi kemudian bergerak dan menangka SR di rumahnya yang sekaligus tempat produksi miras di Jalan Kincir Raya , Cengkareng, Jabar. Dari pemeriksaan, kata Hengki, diketahui miras dijual secara tertutup.

Menurut Hengki, tersangka membuat miras oplosan yang dijual dari harga Rp15.000 hingga Rp25.000 itu dari bahan-bahan yang dibeli dari toko kimia di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Kepada pemilik toko, dia berdalih bahan metanol yang dibeli akan digunakan pembuatan parfum.

“Bahan ini sebenarnya bersifat toksin atau racun yang digunakan untuk mengekstrasi. Jadi tidak boleh dikonsumsi. Kemudian dicampur teh gula dan air putih,” jelasnya

Dari tangan tersangka disita 10 dirigen alkohol 70% ujukuran 20 liter, 5 buah dirigen, 3 takaran air, gayung, plastik ukuran 1 dan 1/2 kilo dan miras siap edar.

Polisi menjerat SR dengan pasal 204 KUHP dan atau pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 butir a UU RI No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan atau pasal 140 jo pasal 86 ayat 2 UU RI No 18 tahun 2012 tentang pangan.

Hengki menegaskan, selain pasal tersebut, polisi juga akan menerapkan pasal pembunuhan. Menurutnya, tersangka mengetahui bahan miras oplosan yang dibelinya dapat mengakibatkan kematian sehingga dapat dijerat pasal tersebut di atas.

“Kami terapkan di sini yaitu kami pasang pasal pembunuhan mengingat ada teori dalam hukum pidana yang disebut dolus evantualis, kesengajaan dalam kemungkinan. Bahwa yang bersangkutan memahami ada kemungkinan-kemungkinan akibat perbuatan ini yang sebenernya bisa dihindari. Karena nya kami terapkan pasal pembunuhan terhadap kasus ini,” terang Hengki.

Dia menandaskan jeratan pasal pembunuhan terhadap pelaku pembuatan miras oplosan baru diterapkan kali ini. Harapannya, imbuh Hengki, agar dapat membawa efek jera bagi pelaku

“Mungkin ini yang pertama terhadap miras oplosan dengan harapan bisa berikan efek jera baik secara spesialis buat pelaku tindak pidana maupun secara generalis jd jgn ada coba2 meniru lagi,” pungkas Hengki.

Nenek-nenek Mengoplos Miras, Enam Pemabuk Tewas
 


Polling

Yakinkah Anda Indonesia Akan Lebih Baik Dibawah Kepemimpinan Jokowi-JK?
  Results

Follow us