12
Mar 2018
Makin Banyak Warga Melbourne Memakan Hasil Tanaman Sendiri
Ditulis oleh AUSTRALIAPLUS/ND
PDF Print E-mail

BERITANUSA – Pernahkah Anda mengintip pagar halaman belakang Anda dan memeriksa kebun sayuran yang mengesankan milik tetangga Anda dengan rasa iri? Jika demikian, Anda tak sendirian.

Bagi banyak orang, kebun makanan di halaman belakang yang subur adalah bagian penting dari mimpi Australia.

Sementara banyak orang tak makan alpukat tumbuk untuk menghemat, ada orang yang menumbuhkan sendiri tanaman itu. Tapi siapakan petani urban ini? Berapa jumlahnya? Dan apa yang mereka tanam? Inilah pertanyaan yang ingin dijawab program Curious Melbournian di ABC.

"Saya sering bertanya-tanya berapa banyak pertanian urban beroperasi di Melbourne," kata Daniel Fay dari program tersebut. "Saya mengunjungi seorang teman yang pindah ke property sewa di mana penghuni sebelumnya nampaknya memiliki banyak pohon penghasil buah yang berbeda.”

"Siapa di luar sana menanam semua sayur yang mereka butuhkan di halaman belakang?."

Program ini melakukan beberapa penelusuran untuk mencoba mencari tahu. Ada berapa banyak petani urban?

Istilah "petani urban" cukup luas. Apakah istilah ini mengacu pada pertanian komersil atau merujuk siapa saja yang menanam sesuatu yang bisa dimakan di halaman belakang mereka?

Di satu sisi, ya. Tapi, Daniel ingin tahu lebih banyak tentang kebun makanan halaman belakang dan kebun komunitas, jadi kami memilih untuk memusatkan perhatian pada hal itu.

Mendapatkan gambaran pasti tentang berapa banyak jumlah petani perkotaan ini begitu sulit, mengingat hal itu bukanlah informasi yang dikumpulkan secara teratur sebagai bagian dari sensus.

Kami telah melakukan yang terbaik untuk memperkirakan angka-angkanya, berdasarkan pada penelitian terbaru yang pernah ada di bidang ini.

Institut Australian melakukan penelitian pada tahun 2014 dan menemukan, di seluruh Australia, 52 persen rumah tangga melaporkan bahwa setidaknya mereka menanam sebagian makanan mereka sendiri di halaman belakang rumah mereka.

Di negara bagian Victoria, angka tersebut meningkat menjadi 57 persen - jauh lebih tinggi daripada di Queensland dan New South Wales.

Para peneliti menghubungkan hal ini dengan iklim sedang di negara bagian selatan yang lebih sesuai untuk menumbuhkan jenis tanaman yang dikonsumsi orang setiap hari, bukan buah tropis mewah. Kalau begitu ceritanya, akan ada begitu banyak leci yang bisa dimakan keluarga!

Jadi, jika jumlah rumah tangga di Melbourne - menurut sensus 2016 - sekitar 1,57 juta, maka jumlah rumah tangga yang menanam beberapa makanan mereka sendiri sekitar 897.000 orang.

Jelas, jumlah yang dihasilkan di kebun belakang sangat bervariasi, dari beberapa tanaman bumbu dan tomat hingga buah dan sayuran dalam jumlah yang hampir komersil.

Jumlah rumah tangga yang memproduksi semua yang mereka butuhkan diperkirakan cukup kecil, namun penelitiannya terbatas dan pengumpulan informasi semacam ini belum menjadi bagian dari sensus sejak tahun 1992.

Sebuah studi sedang berlangsung di Universitas Melbourne untuk menghasilkan kumpulan data yang lebih luas tentang siapa saja yang menanam apa dan berapa banyak.

Selain warga yang sudah menanam makanan mereka sendiri, studi di Institut Australian menemukan 13 persen orang lainnya berniat untuk memulai kegiatan itu dalam 12 bulan ke depan.

Para peneliti mengatakan itu menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga populasi setidaknya tertarik pada produksi makanan di halaman belakang rumah.

Petani perkotaan sama beragamnya seperti bagian populasi Melbourne lainnya, namun paling sesuai dengan satu dari tiga kategori: tukang kebun akhir pekan, tukang kebun komunitas atau petani semi komersil.

Kebanggaan dan kegembiraan di taman Robyn Richards adalah tanaman tromboncino yang mencolok: sejenis labu yang tumbuh hingga beberapa kaki dan melengkung sampai terlihat seperti - Anda bisa menebaknya - sebuah alat musik trombon.

"Jika saya tidak bisa memakannya, saya tidak menanamnya," katanya. "Ayah saya selalu menanam sayuran di halaman belakang rumahnya, jadi saya kira saya meniru hal itu itu dari dia.”

Kebun Robyn Richards memproduksi 15 kg zucchini tiap minggunya. Photo: Kebun Robyn Richards memproduksi 15 kg zucchini tiap minggunya.  "Saya punya resep dan saya berpikir, oh saya tidak punya bahan itu, jadi saya akan menanamnya," ujarnya.

"Saya menanam tomat, zucchinis, raspberry, labu, saya sudah selesai memanen jagung tapi saya akan punya buncis dalam waktu dekat."

Robyn bekerja penuh waktu sehingga jatah berkebunnya sebagian besar dibatasi beberapa jam selama akhir pekan. Ia mengatakan pekerjaan terbesarnya adalah mengubah kompos. "Saya selalu mengatakan, berilah tanah makanan dan tanah akan memberi makan Anda," sebutnya.

Dan begitulah yang terjadi. Pada masa puncak, Robyn memproduksi zucchinis 15 kilogram seminggu dan lima kilogram tomat. "Saya banyak membagi-bagikan hasil kebun saya," katanya.

Ia juga membuat sendiri resep dan sausnya, yang berujung pada hadiah Natal yang sangat menolong. "Menurut saya makanan rumahan pasti terasa jauh lebih enak," katanya.

Ini bukan alasan ekonomis -tentu mungkin harganya lebih mahal daripada membeli di supermarket -tapi saya suka memiliki produk segar dan memilikinya kapanpun saya membutuhkannya. "Ini relaksasi saya, suami saya bermain golf dan saya berkebun."

Makin Banyak Warga Melbourne Memakan Hasil Tanaman Sendiri
 


Polling

Yakinkah Anda Indonesia Akan Lebih Baik Dibawah Kepemimpinan Jokowi-JK?
  Results

Follow us