11
Jan 2018
Pilkada Serentak 2018 Berpotensi Genjot Ekonomi Domestik
Ditulis oleh BERITASATU/ND
PDF Print E-mail

BERITANUSA – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 harus didorong untuk membantu konsumsi demi menaikkan pertumbuhan ekonomi. ‎Hal itu harus dilakukan sehingga pada tahun 2018 ini Indonesia tidak kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.

Ekonom Dradjad H.Wibowo menyatakan bahwa momentum pertimbuhan ekonomi itu muncul setidaknya karena dua faktor. Pertama, perekonomian global sedang menguat. Kedua, adanya 171 pilkada serentak yang berpotensi menguatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga, terutama di daerah.

‎Pilkada itu adalah faktor domestik di mana akan dilakukan di 171 daerah. Diakui Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) itu, memang ada risiko politik di situ. Namun dia juga melihat pilkada lebih bernilai positif bagi perekonomian.

"Kenapa? Karena belanja KPU dan calon kepala daerah bisa menguatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga, terutama di daerah," kata Dradjad, Rabu (10/1). ‎

‎Saat ini proporsi konsumsi rumah tangga adalah sekitar 55-56 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Hitungan kasar, Dradjad mengatakan belanja pilkada bisa menyumbang tambahan pertumbuhan konsumsi sekitar 0,2-0,3 persen. "Ini jika efek multipliernya tidak dihitung, yang mungkin cukup besar karena yang naik adalah konsumsi di daerah," katanya.‎

‎Dari sisi global, ‎kata dia, akhir-akhir ini pertumbuhan ekonomi Indonesia memang berjalan di tempat. Pada tahun 2014, hanya 5,01 persen, turun ke 4,88 persen (2015), lalu kembali ke 5,02 persen (2016). Tahun 2017, pertumbuhan terlihat tetap stagnan sekitar 5,00-5,05 persen.

‎‎Di sisi lain, ekonomi dunia sebenarnya sedang sangat positif. Zona Euro yang selama ini “sakit” misalnya, pada tahun 2017 tumbuh 2,6 persen yoy, tertinggi sejak Q1/2011. Purchasing Managers’ Index (PMI) Zona Euro mencapai 60,6, atau tertinggi sejak adanya PMI mulai Juni 1997.

‎Negara tetangga seperti Singapura tumbuh melejit ke 3,5 persen, atau hampir dua kali lipat dari perkiraan awal tahun, kata Dradjad. Bahkan pada kuartal 3/2017 ekonomi Singapura tumbuh 5,2 persen. Perkiraan pertumbuhan global juga terus direvisi ke atas, terakhir sekitar 3,2 persen.

‎Sementara tren perdagangan global sedang sangat positif. Ini terlihat dari the Baltic Dry Index yang melonjak dari 900 pada awal 2017 menjadi 1400 pada akhir 2017.

‎Harga komoditi juga naik pesat. Bloomberg Commodity Spot Index (BCOMSP) saat ini berada pada level 358,4, tertinggi sejak 2016. BCOMSP adalah Indeks harga spot dari komoditas dunia. Selama 2017 BCOMSP naik 7,43 persen.

‎"Bagi Indonesia, BCOMSP merupakan indikator penting. Karena, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh ekspor dan harga komoditas," imbuhnya.‎

‎Oleh sebab itu, jika harga komoditas tumbuh di atas 7 persen, namun ekonomi hanya tumbuh 5 persen, berarti di domestik ada yang salah, kata Dradjad.‎ Di pasar keuangan, kondisinya pun sangat positif. Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) — sebuah indeks pertumbuhan pasar modal dunia — melejit rata-rata 22 persen di 47 negara selama tahun 2017. Dow Jones Industrial Average menembus 25000. Pasar modal mulai dari London hingga Tokyo ikut pecah rekor. Undang-undang pajak yang baru dari Donald Trump ikut memberi sentimen positif bagi pelaku pasar modal.

‎Singkatnya, kata dia, ekonomi global sedang menguat. Mayoritas pelaku dan analis pasar dunia juga cenderung optimistis melihat 2018. Memang ada risiko seperti tingkat dan tren utang Tiongkok, kebijakan proteksionis Trump dan Brexit. Tapi secara umum, ekspektasi dunia sedang positif.‎

‎‎Nah, dengan adanya faktor domestik soal pilkada dan situasi global yang membaik, kata Dradjad, seharusnya Indonesia bisa mendobrak stagnansi pertumbuhan pada tahun 2018. Target 5,4 persen semestinya bisa relatif mudah dicapai. ‎

‎Jika ingin lari lebih kencang, memang pemerintah perlu membenahi faktor domestik yang membuat kita kehilangan momentum tahun 2017. "Contohnya antara lain kebijakan populis anti-bisnis dari beberapa beberapa kementerian serta kelemahan implementasi kebijakan ekspor dan investasi," ulas Dradjad.

Pilkada Serentak 2018 Berpotensi Genjot Ekonomi Domestik
 

Polling

Yakinkah Anda Indonesia Akan Lebih Baik Dibawah Kepemimpinan Jokowi-JK?
  Results

Follow us