08
Jan 2018
Utang Se-dunia Melejit, Kini Mencapai US$ 233 Triliun
Ditulis oleh KONTAN/ND
PDF Print E-mail

BERTANUSA – Utang sedunia melejit. Hasil riset Institute of International Finance (IIF) menyebutkan hingga kuartal ketiga 2017, jumlah utang global naik sebanyak US$ 16 triliun dari akhir tahun 2016 menjadi US$ 233 triliun.

Dari jumlah tersebut, IIF mencatat, pertumbuhan utang swasta non keuangan dari Kanada, Prancis, Hong Kong, Korea Selatan, Swiss dan Turki, naik paling tinggi.

Pada saat yang sama, produk domestik bruto (PDB) turun 3% dari tahun 2016. "Upaya untuk menekan kenaikan utang, telah berkontribusi pada penurunan PDB tersebut," terang IFF seperti dikutip Bloomberg, Jumat (5/1).

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan, populasi global saat ini mencapai 7,6 miliar penduduk. Itu artinya, utang per kapita penduduk dunia kini mencapai sekitar US$ 30.000 atau setara dengan Rp 405 juta per orang (kurs US$ 1=Rp 13.500).

Hal ini, menurut IFF bisa menjadi peringatan bagi bank sentral yang berniat menaikkan suku bunga acuannya. Sebab bila hal tersebut dilakukan, maka akan membebani kemampuan bayar debitur atas pinjaman yang dilakukannya.

Masih berdasarkan catatan IFF, posisi pemilik utang terbesar kedua dibukukan oleh lembaga pemerintahan di seluruh dunia yang mencatatkan total utang senilai US$ 63 triliun. Sedangkan, lembaga keuangan global membukukan total senilai US$ 58 triliun. Lalu segmen rumah tangga mencatatkan total utang sebesar US$ 44 triliun.

 

Waspadai China

China menjadi negara dengan utang yang terbilang jumbo. Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) telah memperingatkan pada Oktober 2017 lalu bahwa aset perbankan China telah melonjak hingga 310% terhadap PDB, dibandingkan 240% dari PDB sampai akhir tahun 2012.

Gara-gara Utang ini pula, pada September 2017, S&P Global Ratings menurunkan peringkat kredit jangka panjang China. Jauh sebelum S&P, Moody's pada Mei 2017 telah lebih dulu mengambil sikap dengan menggunting peringkat kredit jangka panjang China.

Dalam beberapa bulan terakhir, tulis UBS, investor dengan waswas mengawasi lonjakan imbal hasil obligasi 10 tahun China sebagai indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Namun China hanya satu dari sekian banyak negara yang juga punya masalah serupa.

Utang Se-dunia Melejit, Kini Mencapai US$ 233 Triliun
 

Polling

Yakinkah Anda Indonesia Akan Lebih Baik Dibawah Kepemimpinan Jokowi-JK?
  Results

Follow us