06
Des 2017
Menang Asia Spelling Cup dengan Bantuan Teknologi
Ditulis oleh CNN/ND
PDF Print E-mail

BERITANUSA -- Grogi dan khawatir melanda Natasya Hon di atas panggung. Finalis Qooco Asia Spelling Cup 2017 di Kuala Lumpur ini belum tahu kata apa yang akan ditanyakan oleh juri saat kompetisi itu berlangsung.

“Momen yang menegangkan berdiri di hadapan banyak orang, yang memandang saya, dan saat yang sama saya harus berkonsentrasi mengeja kata,” tutur Natasya kepada CNN Student melalui e-mail, Kamis (30/11).

Tapi pada akhirnya bocah 10 tahun ini berhasil mencatatkan namanya di urutan 3 teratas, menyingkirkan 30 kontestan kelas SD lain dari China, Malaysia, Thailand, dan tentu dari Indonesia sendiri.

Kata tersulit yang harus dieja oleh Natasya adalah “Pinafore”. Ini kata yang sinonim dengan “apron”. “Tapi saya kurang familiar dengan kata itu, meski ditanya artinya dan digunakan dalam kalimat, saya enggak tahu artinya,” tutur Natasya, jujur.

Meski begitu, Natasya senang sekali sudah meraih posisi ketiga. Apalagi demi melihat keluarganya yang tampak senang sekali atas prestasi tersebut.

Di sekolah, dalam pembelajaran bahasa Inggris, guru Natasya menggunakan kamus online untuk mendengarkan pengucapan kata dalam bahasa Inggris secara benar. Mereka juga memakai game online macam Kahoot dan membaca artikel online.

Ini bukan kali pertama Natasya, siswa kelas V SD Bunda Mulia ini mengikuti kompetisi mengeja semacam itu. Tapi ini kali pertama dia mengikuti kontes yang babak penyisihannya hanya menggunakan aplikasi ponsel pintar. Dia mengalahkan ribuan kontestan lain di babak lokal Indonesia dan mendapatkan tempat di putaran final di Kuala Lumpur, Malaysia.

Padahal, dua hari sebelum mengikuti kompetisi lokal, Natasya mengikuti perkemahan dan itu melelahkan. Namun setelah diingatkan guru, Natasya pun mengikuti lomba menggunakan aplikasi di ponsel pintar itu dan akhirnya dinyatakan lolos ke Malaysia.

Pesaing terberatnya adalah Xie Zhenghan, 10 tahun, dari China, dan Jaratpat Akkanimanee, 10 tahun, dari Thailand. Berturut-turut mereka ini adalah peraih perak dan emas. Natasya gagal pada kata “pinafore”, sedang Zhenghan gagal mengucapkan kata “Harpoon”.

“Peserta dari Thailand itu sepertinya tahu semua kata dalam kamus,” tutur Natasya.

Menurut Natasya, sudah banyak sekolah di Indonesia yang mengadakan kompetisi mengeja. Namun biasanya berbayar. Sedang peserta Qooco Asia Spelling Cup 2017 tidak dipungut biaya. Kompetisi seperti itu baik sekali untuk menunjukkan kemampuan mengeja dan pada saat yang sama bisa berkenalan dengan teman baru.

Natasya senang Qooco Asia Spelling Cup 2017 memberinya peluang mengikuti kompetisi yang besar, mewakili Indonesia, terbang ke Kuala Lumpur dan menginap di hotel besar macam InterCon dengan gratis bersama ibunya.

“Saya harap Qooco bisa melanjutkan kompetisi ini untuk membantu pelajar Indonesia mendemonstrasikan keahlian mereka berbahasa Inggris,” ucap dia.

Natasya mengatakan, belajar menggunakan teknologi sangat membantu. Dia mulai menggunakan perangkat teknologi untuk membantunya belajar sejak tahun lalu. Tentu saja, di samping memakai perangkat itu untuk berkomunikasi dengan teman, keluarga, dan memperbarui status di media sosial.

Menang Asia Spelling Cup dengan Bantuan Teknologi
 

Polling

Yakinkah Anda Indonesia Akan Lebih Baik Dibawah Kepemimpinan Jokowi-JK?
  Results

Follow us