09
Apr 2019
Jerman Tawarkan Rp 266 Juta bagi Relawan untuk Tiduran 60 Hari
Ditulis oleh LIPUTAN6/ND
PDF Print E-mail

BERITANUSA – Ilmuwan luar angkasa Jerman menawarkan € 16.500 (sekitar 266 juta Rupiah - Red) bagi mereka yang bersedia untuk berbaring di tempat tidur selama 60 hari. Tujuannya untuk menguji efek negatif dari bobot tubuh manusia.

Studi jangka panjang di tempat tidur, yang bertujuan memahami dampak gaya berat mikro pada astronot selama penerbangan antariksa ke bulan dan Mars, melibatkan 12 pria dan 12 wanita yang berbaring di tempat tidur selama dua bulan di Pusat Penerbangan dan Antariksa Jerman (DLR) di kota Köln.

"Penting bagi kru penerbangan antariksa agar dilakukan percobaan dalam gaya berat mikro. Kita harus membuatnya seaman mungkin untuk para astronot," kata Hansjörg Dittus, anggota Dewan Eksekutif DLR untuk Penelitian dan Teknologi Antariksa.

Jangka waktu yang lama dalam kondisi tanpa bobot menyebabkan atrofi tulang dan otot, penurunan fungsi kardiovaskular, dan memaksa cairan tubuh untuk bergerak ke bagian atas tubuh. Ini juga dapat menyebabkan tubuh lemah, pusing, wajah bengkak, mual, gangguan telinga bagian dalam, sistem kekebalan tubuh yang terganggu dan sakit punggung.

Sebagai bagian dari studi simulasi, peserta akan dikurung di tempat tidur untuk semua eksperimen, makan, dan bersantai - bahkan untuk mandi atau pergi ke kamar mandi.

Tempat tidur juga dimiringkan ke bawah di bagian letak ujung kepala sebesar enam derajat untuk mensimulasikan perpindahan cairan tubuh yang dialami oleh astronot dalam gaya berat mikro.

Dalam percobaan pertama, dua pertiga dari peserta percobaan akan dimasukkan setiap hari ke alat "short-arm human centrifuge manusia" yang menciptakan gravitasi buatan.

Centrifuge bertujuan untuk menguji apakah gravitasi buatan dapat mencegah atau menangkal perubahan fisiologis yang dialami di ruang angkasa.

Penelitian, yang didanai oleh NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA), akan dilakukan dalam dua putaran. Total 12 peserta pertama tiba pada tanggal 25 Maret dan angkatan kedua diharapkan memulai studi pada bulan September.

Jerman Tawarkan Rp 266 Juta bagi Relawan untuk Tiduran 60 Hari
 

Follow us